Home   •   PSG Pontianak

PSG Pontianak

PERTEMUAN PSG PONTIANAK - PERTAMA

Di bawah ini adalah Laporan Pertemuan PSG Pontianak PERTAMA.

Pertemuan PSG Pontianak yang pertama akhirnya terlaksana pada tanggal 6 Mei 2007 yang lalu. Setelah sebelumnya, kami, beberapa Ibu penggagas PSG mengadakan pertemuan-pertemuan kecil untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkenaan dengan pertemuan perdana tersebut. Dimulai dari pengumpulan data para orang tua yang bergabung, penentuan tempat pertemuan, pembahasan mengenai acara yang akan diselenggarakan dan hal-hal teknis lainnya.

Minggu, 6 Mei 2007, acara dijadwalkan dimulai pada pukul 10.00 WIB bertempat di kediaman Ibu Suwiena. Garasi rumah Ibu Suwiena yang cukup luas disulap menjadi tempat pertemuan yang cukup lapang. Pada kesempatan ini pula, kami sudah menyiapkan brosur Peduli Autisme yang diterbitkan Puterakembara dan Yayasan Autisma Indonesia dalam rangka Bulan Peduli Autisme yang lalu, yang akan dibagi-bagikan kepada yang hadir.

Jam menunjukkan pukul 10.00 lewat sedikit, ketika satu persatu orang tua mulai berdatangan. Beberapa orang tua hadir membawa anak-anak beserta terapisnya.
Dari daftar hadir yang diedarkan, tercatat 24 nama orang tua anak penyandang autis yang hadir, di mana salah satunya, mempunyai sepasang putra kembar yang kedua-duanya terdeteksi menyandang autis. Dan ada 2 orang tua yang hadir berasal dari 2 kabupaten berbeda di Kalimantan Barat, yang masing-masing jauhnya ratusan kilometer dari Pontianak.
Total yang hadir sekitar 40 orang, termasuk anak-anak dan para terapisnya.

Acara pertama dimulai pada pukul 10.30. Diawali kata pembukaan oleh moderator, Ibu Hilda. Secara singkat, Ibu Hilda menjelaskan latar belakang dibentuknya PSG ini, tujuan-tujuan yang hendak dicapai dan agenda kegiatan yang akan dilaksanakan untuk selanjutnya.

Acara dilanjutkan dengan perkenalan diri dari semua yang hadir.
Kesempatan pertama diberikan kepada dr. Junaidi, seorang dokter rehab medik di RSUD Dr. Soedarso, Pontianak. Beliau sangat tertarik dengan autisme dan saat ini sedang mendalami bidang autisme.

Satu persatu orang tua yang hadir secara bergiliran memperkenalkan diri dan berkesempatan menceritakan riwayat perkembangan anak masing-masing.
Ibu Viana, bunda Evan, yang sekarang sudah duduk di kelas II SMP, berkenan membagikan sedikit pengalamannya. Ibu Viana menuturkan, bagaimana 'kejamnya dunia' sudah pernah dialaminya, ketika berusaha menyekolahkan putranya yang baru bisa berbicara verbal pada usia 5 tahun, di mana 7 sekolah yang didatangi semuanya menolak kehadiran putranya. Tanpa putus asa Ibu Viana berusaha selalu memberikan yang terbaik buat putranya. Selama beberapa tahun dia benar-benar mencurahkan perhatian hanya demi menangani Evan. Namun, perjuangan Ibu Viana tidak sia-sia, pencapaian yang diperoleh Evan saat ini sungguh luar biasa. Evan terlihat sudah sangat mandiri, dengan tutur kata yang sopan dan pembawaan diri yang tenang.

Sungguh sharing yang sangat berharga sekaligus mengharukan bagi semua yang hadir saat itu. Diharapkan pengalaman Ibu Viana bisa menjadi inspirasi dan memberikan motivasi bagi orang tua lainnya dalam membimbing putra-putri mereka.

Seusai acara perkenalan, dr. Junaidi berkenan menyampaikan presentasi singkat mengenai seluk beluk autisme, diagnosa awal, langkah-langkah awal apa yang harus ditempuh orang tua yang anaknya baru terdeteksi autis dan beberapa metode terapi yang bisa diterapkan. Sempat terjadi Tanya jawab antara beberapa orang tua dengan dr. Junaidi.

Acara break sejenak diisi para orang tua dengan rembug-rembug kecil. Dari hasil rembug tersebut, kemudian tercetus suatu ide bersama untuk menggugah perhatian pemerintah dan masyarakat untuk lebih bersikap peduli terhadap komunitas autis di Pontianak dan sekitarnya, yang diyakini jumlahnya sudah semakin meningkat pula dari tahun ke tahun.

Diharapkan, pemerintah bisa merespon aspirasi yang akan kita sampaikan, terutama menyangkut masalah pendidikan dini buat anak-anak penyandang autis maupun penyediaan sarana terapi yang bisa dijangkau semua lapisan masyarakat. Karena saat ini sarana terapi yang tersedia masih sangat minim dengan biaya yang relatif mahal pula. Diharapkan pula, pemerintah bisa memberikan solusi bagi pendidikan anak-anak autis, karena banyak anak-anak autis yang sering ditolak di sekolah umum, dan akhirnya tidak bisa bersekolah lantaran belum adanya sekolah khusus buat mereka di Pontianak. Pembahasan lebih lanjut mengenai permasalahan ini akan dilanjutkan pada pertemuan PSG kedua yang direncanakan pada 3 Juni mendatang.

Secara umum, acara yang berakhir pada pukul 14.00 WIB itu berjalan lancar dan bergulir begitu saja. Suasana juga diramaikan dengan hilir mudiknya anak-anak, dan para orang tua yang sekali-sekali terpaksa meninggalkan tempat duduknya untuk mengawasi putra-putrinya.

Saya sempat memintai komentar beberapa orang tua sebelum acara dibubarkan. Bagaimana tanggapan mereka terhadap acara PSG yang pertama ini. Semua berespon sangat positif dan menyambut baik. Menurut mereka, dengan pertemuan seperti ini bisa saling mendekatkan sesama orang tua, saling bertukar informasi, dan saling berbagi pengalaman masing-masing. Ada orang tua yang menambahkan, bahwa sebelum hadir, dia tidak tahu banyak tentang autisme, dan hari ini dia merasa sudah mendapat banyak informasi yang berguna dari sesama yang hadir.

Semoga kegiatan-kegiatan PSG mendatang akan semakin memberikan manfaat bagi semua orang tua dan putra putri tercinta.

Sampai jumpa di pertemuan berikutnya.
(Natalie-Pontianak)

 

  • Slide1_1
  • Slide1_2
  • Slide1_3
  • psg-bpn---18-aug-07
  • slide1
  • slide2
  • slide20
  • slide3
  • slide30
  • slide4
  • slide5
  • slide6
  • slide7

Simple Image Gallery Extended

 PERTEMUAN PSG PONTIANAK - 2

Sharing dari pertemuan ke-2 PSG Pontianak

Seperti telah disepakati pada pertemuan PSG yang pertama (LIHAT DI BAWAH), pertemuan PSG kedua terlaksana juga pada tanggal 3 Juni 2007 yang lalu.

Pertemuan kedua ini kita usung dalam format temu wicara, semacam dialog antara orang tua anak-anak penyandang autis, pimpinan/guru-guru sekolah, dari TK sampai SMP dengan beberapa tokoh pendidik di Kalbar dan pejabat dari Dinas Pendidikan Kota Pontianak.
Pada pertemuan ini, kami juga berinisiatif mengundang pihak sekolah maupun jajaran Dinas Pendidikan, karena pada pertemuan pertama yang lalu, banyak orang tua mengeluh masih minimnya sekolah yang mau menerima anak-anak spesial dikarenakan kurangnya sosialisasi mengenai autisme di sekolah-sekolah dan di masyarakat pada umumnya.

Bertempat di Aula PT. Pelabuhan Indonesia II, Pontianak, acara dimulai pukul 10.14 WIB.
Sebagai pembuka acara, pembacaan sebuah puisi yang dikutip dari website Puterakembara oleh Neon, penyandang autis berusia 20 tahun. Dengan lancar dan intonasi yang beralun, Neon membawakan puisi dengan baik dan disambut aplaus yang meriah dari yang hadir.

Acara selanjutnya, kesempatan diberikan pada Bapak Chairul, SPd., dari Dinas Pendidikan Kota Pontianak. Dalam wacananya, beliau menyatakan cukup memahami mengenai kasus autisme. Ditegaskan oleh Pak Chairul, autisme bukan sejenis penyakit yang perlu ditakuti. Dan hendaknya pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan dukungan dan kemudahan bagi pihak-pihak yang ingin menyelenggarakan pendidikan maupun kursus di luar sekolah formal bagi anak-anak autis. Beliau juga memandang perlu segera diadakannya sekolah khusus buat anak-anak autis yang kondisinya tidak memungkinkan untuk diterima di sekolah umum. Selain itu, perlu adanya konsolidasi yang kuat antara masyarakat dan para tenaga ahli mengingat biaya yang cukup besar untuk pendidikan dan terapi bagi anak-anak autis ini.

Setelah wacana singkat dari Bapak Chairul, kesempatan diberikan pada para peserta untuk menyampaikan opini maupun pertanyaan.

Bapak Nazmuddin dari Pusat Terapi Bina Anak Bangsa mengemukakan bahwa di lembaga yang dipimpinnya terdapat sekitar 12 anak autis yang sedang menjalani program terapi. Setelah menjalani program-program terapi, anak-anak sering diupayakan untuk mengikuti pendidikan di sekolah umum, akan tetapi sebagian besar anak-anak tersebut selalu ditolak oleh sekolah dan tidak pernah direspon secara positif oleh lingkungannya, karena anak-anak tersebut masih sering dianggap mengganggu dan 'berbahaya'.

Ibu Iza,wakil dari SD Al-Azhar, Pontianak, mengusulkan agar Dinas Pendidikan dan pemerintah khususnya dapat menjamin pendidikan bagi anak-anak autis dengan cara membebaskan biaya pendidikan anak-anak autis di sekolah umum, karena banyak anak autis berasal dari kalangan yang tidak mampu.

Bapak Rustami, ayah dari dua anak kembar penyandang autis, mengeluh bahwa salah satu dari putra kembarnya 'terpaksa' belajar di SLB, karena di sekolah umum, oleh segelintir guru, putranya dicap sebagai 'anak gila'. Dalam kesempatan ini Bapak Rustami ingin masyarakat dan pemerintah dapat mengakui bahwa anak-anak autisme bukanlah anak-anak yang cacat, baik secara mental maupun fisik.

Pernyataan Bapak Rustami ditanggapi oleh Bapak Athong, seorang pendidik senior di Pontianak, bahwa kedepannya, diharapkan tidak ada lagi masyarakat, khususnya seorang guru yang notabene adalah seorang pendidik, mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kurang baik, seperti mengatakan bahwa anak autis adalah 'anak gila'.

Ibu Sri Sukarni dari TK LKIA Pontianak, mengesankan semua yang hadir dengan membesarkan hati semua orang tua anak penyandang autis, bahwa sekolah yang dipimpinnya, tidak pernah menolak kehadiran anak-anak autis. Jadi, para orang tua yang ingin memasukkan anaknya ke TK, akan diterima dengan tangan terbuka.
Ibu Sri menekankan, bahwa dalam membimbing dan mengajar anak autis, kunci utamanya adalah kasih saying. Beliau juga mengusulkan agar dapat diadakan semacam pentas seni untuk menampilkan anak-anak autis, karena banyak ditemukan anak-anak autis yang berbakat di bidang seni dan mempunyai ketrampilan yang dapat dipertunjukkan.

Beberapa pertanyaan mengenai, apa itu autisme, deteksi dan diagnosa awal autisme, dijawab oleh dr. Junaidi dengan memberikan sebuah presentasi singkat seputar ASD, gejala-gejala yang menyertai dan perlunya terapi terpadu untuk penanggulangan sedini mungkin.

Pukul 12.30, acara break sejenak, diisi dengan snack time dan beberapa penampilan dari anak-anak spesial kita.
- Atika, 11 tahun, mempersembahkan dua lagu pop dengan iringan keyboard.
- Neon, membacakan puisi yang kedua.
- Evan, 14 tahun, membacakan dua buah puisi berturut-turut.
- Terry, turut menyumbangkan sebuah puisi.
- Brenda, 8 tahun, membawakan 3 buah lagu, Kasih Ibu, Tutup Mata dan Lipatlah Tangan melalui permainan keyboard.

Pukul 13.00,
Bapak Hery dari SD Suster Pontianak, meminta agar kita dapat mensosialisasikan autisme ini lebih meluas, termasuk kepada orang tua anak-anak normal yang bersekolah bersama-sama anak-anak spesial, karena dari pengalaman mereka selama menerima anak-anak spesial, tidak jarang mendatangkan protes dari orang tua anak-anak normal.

Bapak Leo Sutrisno, Guru Besar FKIP Universitas Tanjungpura, menyatakan, bahwa tidak tertutup kemungkinan FKIP Untan menyelenggarakan program pendidikan khusus bagi tenaga-tenaga guru untuk menangani anak-anak autis.
Diharapkan juga dari pihak Dinas Pendidikan dapat memberikan semacam pelatihan bagi semua guru-guru di sekolah umum, agar bisa menimba pengetahuan bagaimana cara-cara yang tepat dalam menangani anak-anak spesial di sekolah umum.

Acara PSG Pontianak ke-2 ini diliput oleh TVRI Pontianak, dan Harian Kun Dian Ri Bao (Koran berbahasa Mandarin). Di sela-sela acara, crew TVRI berkesempatan mewawancarai beberapa anak spesial. Ditanyakan mengenai seputar kegiatan anak-anak spesial dan sekolah mereka. Semua dijawab dengan lancar dan baik oleh anak-anak.
Melalui TVRI kita berkesempatan menyampaikan beberapa pesan mengenai Autism Awareness yang sedang kita gaungkan di Pontianak ini. Termasuk milis kita tercinta, Puterakembara yang tak luput dari perhatian crew TVRI.

Pukul 14.00, acara ditutup karena keterbatasan waktu. Mudah-mudahan semua pesan yang kita sampaikan, termasuk dialog-dialog yang dikemukakan dapat menyentuh semua lapisan guna meningkatkan kepedulian terhadap autisme.

Pukul 16.30, TVRI Pontianak mengundang PSG Pontianak untuk mengisi acara Dialog Interaktif membahas autisme yang ditayangkan secara live. PSG Pontianak diwakili oleh dr. Junaidi, Ibu Suwiena dan Ibu Hilda, kembali menyampaikan pesan-pesan Peduli Autisme. Dalam dialog tersebut, salah seorang anggota DPRD Kota Pontianak menyatakan akan memberikan dukungan untuk semua kegiatan yang akan kita adakan.

Semoga pertemuan kedua ini semakin memberikan manfaat bagi semua orang tua dan dapat menggugah kepedulian semua pihak terhadap autisme, khususnya di Pontianak.
(Natalie - Pontianak, 17 Juni 2007)

 

 

PSG Pontianak - SEMINAR & WORKSHOP

Bertempat di Gedung Rektorat Universitas Tanjungpura Pontianak, pada tanggal 18-19 Agustus 2007 yang lalu, PSG Pontianak menyelenggarakan kegiatan Seminar yang bertopik  "Anak ASD dan Permasalahan Bersekolah" dirangkai dengan Workshop yang mengambil materi "Visual Support".

Yang kita undang sebagai narasumber adalah Ibu Dyah Puspita , salah seorang Pakar kita dari Puterakembara. Kegiatan Seminar dan Workshop ini kita adakan sebagai tindak lanjut dari pertemuan PSG Pontianak yang kedua (3 Juni 2007) bersama pihak-pihak dari Dinas Pendidikan Kota Pontianak dan FKIP Untan Pontianak. Karena target audiens kita adalah para guru sekolah dan pihak-pihak yang terkait dengan masalah pendidikan bagi anak-anak autisme, maka PSG Pontianak menggandeng Diknas Kota Pontianak dan FKIP Untan untuk membentuk Panitia Seminar Bersama, yang diketuai oleh Ibu Suwiena (PSG Pontianak).

Keseluruhan biaya untuk penyelenggaraan Seminar dan Workshop ini, sebagian besar kita dapatkan dari donasi para donatur dan kekurangannya kita galang bersama dari para anggota PSG, sehingga semua peserta Seminar dan Workshop dapat kita bebaskan dari segala biaya.

Kegiatan Seminar dan Workshop yang berlangsung selama 2 hari itu bisa dikatakan berjalan dengan lancar dan sukses. Dilihat dari jumlah peserta Seminar yang mencapai 200 orang dan 120 orang untuk peserta Workshop. Sebagian besar peserta adalah guru-guru sekolah dari TK hingga SMA, para orang tua anak-anak autisme, beberapa tokoh masyarakat dan pemerhati autisme.

Juga hadir beberapa pejabat dari Dinas Pendidikan Kota dan Propinsi, termasuk Bapak Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Kal-Bar, Bapak Drs. H. Ngatman berkenan hadir dan memberikan sambutan pada acara pembukaan Seminar.... (Bravo PSG Pontianak...!! - Moderator :-))

Adapun beberapa point penting yang disampaikan oleh Bapak Ngatman antara lain, bahwa Beliau sangat mendukung semua program kerja PSG Pontianak dalam hal memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak autisme di Pontianak, menegaskan bahwa tidak boleh ada perlakuan diskriminatif terhadap anak-anak autisme yang bersekolah di sekolah-sekolah umum, dan kedepannya agar dapat segera diwujudkan sekolah-sekolah inklusi maupun khusus yang dapat menampung anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak mampu bersekolah di sekolah-sekolah umum.

Semoga apa yang disampaikan Bapak Kadiknas benar-benar dapat diwujudkan segera. Dan menurut Pak Ngatman beliau benar-benar surprise dengan jumlah peserta yang cukup banyak, karena pengalaman Beliau sebelumnya, belum pernah menghadiri seminar dengan jumlah peserta seperti saat ini di Pontianak.

Menurut Ketua Panitia, Ibu Suwiena dari PSG Pontianak bahwa tujuan penyelenggaraan seminar dan workshop ini adalah untuk memberikan pembekalan dan pengetahuan kepada para guru maupun para orang tua, agar dapat mempersiapkan anak-anaknya yang akan bersekolah dan tahu bagaimana cara memperlakukan dan menghadapi anak-anak tersebut di sekolah.

Ibu Ita membawakan acara seminar dengan amat menarik, diselingi dengan pemutaran video dan gaya serta guyonan khas Bu Ita. Antusiasme peserta cukup besar, banyak pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan dalam sesi Tanya jawab, hanya saja, kemarin kita memakai teknis Tanya jawab langsung, sehingga waktu menjadi agak terbuang, menurut Bu Ita, seharusnya pertanyaan diajukan secara tertulis, sehingga dapat ditampung lebih banyak. Dan tak terasa waktu 3 jam berlalu dengan cepat, sesi Seminar berakhir, namun Bu Ita masih diburu-buru para orang tua yang belum puas, bahkan para guru juga sangat berminat dengan materi yang dibawakan Bu Ita. Bu Ita juga sempat diwawancarai reporter dari Ruwai TV dan wartawan dari Borneo Tribune.

Setelah break makan siang, sesi kedua pada tanggal 18 Agustus 2007 kita isi dengan Panelis Diskusi bagi Pendidikan anak autis bersama Dekan FKIP Untan, Bapak Dr. Aswandi, Guru Besar FKIP Dr. Leo Sutrisno, dan Bapak Drs. Khairul Azhar, Kabid Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Kota Pontianak.
Dalam sesi ini, para orang tua berkesempatan mengeluarkan pikiran dan pendapatnya, serta berbagai keluhan yang selama ini ditemui di sekolah-sekolah.

Di akhir pertemuan, pihak Diknas berjanji akan menerima dengan terbuka semua aspirasi dari para orang tua dan mengundang semua orang tua untuk tidak ragu mendatangi mereka seandainya menemui kendala-kendala dalam menyekolahkan anak-anaknya, termasuk beberapa orang tua yang anak-anaknya akan mengikuti Ujian Nasional SD tahun ini, akan diupayakan perlakuan khusus pada waktu pelaksanaan ujian tersebut.

Sesi Workshop pada tanggal 19 Agustus 2007, berlangsung dari pukul 08.30 – 12.00 WIB. Di sini Bu Ita membawakan materi Visual Support yang sangat berperan penting dalam kehidupan anak-anak ASD. Setelah presentasi mengenai materi Visual Support, Bu Ita membagi para peserta yang hadir menjadi 11 kelompok, untuk berdiskusi dan membuat materi Visual menurut materi yang disiapkan oleh Bu Ita. Menurut Bu Ita, Menurut Bu Ita, untuk pertamanya kalinya memberikan Pelatihan dengan jumlah peserta mencapai 120 orang.

Suasana agak santai dan ramai waktu para peserta mengerjakan materi Visual yang diberikan. Dan menjadi lebih ramai dan kocak lagi pada saat wakil kelompok mempresentasikan hasil kerja masing-masing. Ternyata ada juga kelompok yang salah menginterpretasikan soal yang diberikan, sehingga hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

Acara selama 2 hari ini, ternyata memberikan begitu banyak manfaat dan pengetahuan bagi kita semua. Karena di Pontianak, sebelum ini, belum pernah diselenggarakan kegiatan Seminar dan Workshop semacam ini. Pada acara penutupan, pihak peserta yang diwakili oleh Bapak Herman, seorang pendidik senior di Pontianak, menyatakan sangat berterima kasih kepada Bu Ita yang telah berkenan hadir di Pontianak dan membagi ilmu bersama masyarakat Pontianak, dan menghimbau seluruh peserta yang hadir untuk senantiasa memberikan dukungan bagi para orang tua dan anak-anak penyandang autisme serta berharap PSG Pontianak tetap lancar melaksanakan semua program yang akan dilaksanakan kelak.

Salam,
Natalia - Suwiena atas nama PSG Pontianak

 
  • Slide1_1
  • Slide1_2
  • Slide1_3
  • psg-bpn---18-aug-07
  • slide1
  • slide2
  • slide20
  • slide3
  • slide30
  • slide4
  • slide5
  • slide6
  • slide7

Simple Image Gallery Extended