Home   •   Terapi Apa?

Terapi Apa

Ada beberapa macam jenis terapi sebagai tatalaksana autisme/intervensi untuk anak autis. Jenis terapi yang diperlukan dan sesuai untuk tiap individu bisa berbeda-beda tergantung keadaan masing-masing anak.

Perlu diperhatikan bahwa kondisi setiap anak berbeda-beda mengingat Autisme itu spektrum, sehingga tidak ada standard terapi yang cocok dan persis sama pada setiap anak. Sebagian anak autis mungkin ada yang memerlukan beberapa jenis terapi yang dilakukan secara terpadu, sebagian lagi tidak.

Beberapa jenis terapi yang ada antara lain ialah:

1. Terapi perilaku dengan metode ABA (Applied Behavioral Analysis/metoda Lovaas).
2. Terapi wicara (speech and language therapy).
3. Terapi fisik dan okupasi (physical and Occupational Therapy (OT) & Sensory Integration (SI).
4. Diet Casein Free (CF), Glutten Free (GF), bila diperlukan juga Sugar Free (SF). Juga menghindari pengawet makanan, perasa buatan, MSG dan pewarna buatan.
5. Terapi medis berupa obat atau Intervensi Biomedis berupa pemberian suplemen & vitamin mega dosis (jika diperlukan atas rekomendasi dokter yang menangani anak).
6. Terapi metode Floortime dengan pendekatan interaktif antara anak dengan orangtua/keluarga.

Nama-nama terapi lainnya : Auditory Integration Training (AIT), cara berkomunikasi dengan Picture Exchange Communication System (PECS) atau penggunaan Computerised Pictograph (COMPIC), Terapi Musik, Brain Gym, Metoda Glenn Doman, Metode RDI, Terapi Hbot dan lain-lain.

Catatan:
- Untuk lebih jelasnya, silahkan konsultasikan dengan dokter yang menangani anak anda.
- Pencantuman nama Terapi ini bukan merupakan rekomendasi atau anjuran dari kami.

Berikut kutipan dari tulisan Dr. Hardiono D. Pusponegoro Spa(K)
[Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia]

Terapi dan stimulasi mana yang diperlukan? Kita kembali kepada kenyataan bahwa terapi bersifat individual dan harus disesuaikan dengan umur, fase perkembangan dan gejala yang ditemukan. Tidak ada metode yang 100% paling baik untuk semua anak. Para terapis yang menggunakan berbagai metode berlainan harus bekerjasama dengan baik. Bila kasus tidak mengalami kemajuan dengan satu metode terapi, harus dilakukan terapi kombinasi atau dicari cara terapi yang lain.

Apakah peran obat-obatan? Karena penyebab belum diketahui dengan pasti, obat biasanya hanya ditujukan untuk menghilangkan gejala yang sangat mengganggu. Contoh paling klasik adalah perilaku self-injurious yang sangat berbahaya karena anak mencoba melakukan hal yang menyakiti atau merusak diri sendiri misalnya membenturkan kepala ke tembok atau lantai, memukul kepala dengan sangat keras, atau menggigit anggota tubuhnya. Dua puluh persen penyandang autisme mengalami kejang atau epilepsi. Hal ini juga harus mendapat obat yang tepat. Ini berarti bahwa terapi obat untuk penyandang autisme bersifat sangat individual. Bila dokter menganggap bahwa anak memerlukan pengobatan khusus, sebaiknya hal tersebut didiskusikan dengan orang tua. Orang tua harus mendapat penjelasan mengapa perlu diberikan, bagaimana cara mengkonsumsi obat, efek samping yang mungkin terjadi dan lain-lain. Dokter juga harus menghargai pendapat orang tua bila mereka tidak menginginkan terapi obat-obatan.

Dalam bidang yang masih merupakan grey area, dokter dan orang tua harus memahami bahwa tidak semua publikasi kedokteran atau publikasi lain adalah benar atau sahih. Dokter harus mempelajari teknik menilai Evidence-based medicine sehingga mereka dapat menentukan apakah suatu publikasi memang benar atau kurang benar, dan mendiskusikan hal tersebut dengan orang tua. Selanjutnya, karena ilmu kedokteran belum dapat memberi jawaban yang pasti, muncul berbagai terapi komplementer dan alternatif. Bila terapi komplementer dan alternatif ini memang merupakan hasil suatu penelitian yang sahih, pasti akan di adopsi oleh dunia kedokteran sebagai terapi standar. Dokter dan orang tua harus waspada terhadap laporan anekdotal, testimoni, serta berbagai klaim berlebihan mengenai kesembuhan, terutama bila teknik pengobatan tersebut memerlukan kepatuhan, waktu, enerji, dan biaya yang berlebihan.

Bila keluarga sudah memutuskan untuk memberikan terapi komplementer atau alternatif, lakukanlah diskusi dengan dokter anda. Barangkali dokter dapat memberi bantuan mengenai bagaimana cara mengevaluasi terapi, menentukan hasil yang harus diperoleh, menentukan kemungkinan efek samping dan menentukan apakah terapi dapat diteruskan karena bermanfaat atau dihentikan karena tidak bermanfaat atau ada efek samping. Berilah kesempatan kepada dokter untuk mempelajari terapi alternatif tersebut dan mendiskusikannya dengan anda.

Akhirnya, khusus dalam bidang autisme tidak ada yang dapat mengklaim diri sebagai pakar, tidak ada juga yang dapat mengklaim bahwa autisme milik suatu subspesialisasi tertentu. Kerjasama antara dokter, terapis dan orang tua sangat penting demi kemajuan anak, jangan saling merasa benar sendiri atau saling menyalahkan.