Home   •   Sharing dan Tips mengatasi anak yang cenderung menulis angka terbalik

Sharing dan Tips mengatasi anak yang cenderung menulis angka terbalik

10/14/2002
 
Pertanyaan dari rekan milis (orang tua):
 
Seperti diketahui saya punya anak 3 th yang autis adapun anak tersebut adalah anak kedua bernama Bayu, saat ini Bayu sedang mengikuti terapi autism. Sedang anak pertama saya Ayu saat ini berusia 5 th dan sudah sekolah TK besar, akhir akhir ini AYU terlihat ada ke anehan yaitu saat menulis angka sering terbalik (mirror horisontal) setelah diberi tahu kesalahannya dia bisa memperbaiki diri, tapi lama kelamaan terjadi lagi kesalahan tulis tersebut. kejadian ini saya sadari kurang lebih 5 bln yang lalu.
saat itu hanya angka 6 dan 9 yang mirror Horisontal sedang lainnya benar kemudian angka 7, 3 akhir akhir ini 4 & 5 pun menjadi terbalik, bahkan saat di suruh menulis angka 1 sd 10 angka 3, 4, 5, 6, 7, 9 terbalik semua.kalau disuruh menulis angka 10 sering menjadi 01
Rekan - rekan milis gejala apakah yang dialami oleh anak pertama saya dan apa yang sebaiknya kami lakukan.
 
Terima kasih
 
Iktiar Wibowo
____________
 
Saran dari Pakar/dokter dan rekan milis :
--------------------------------
 
Intinya mungkin, segera periksakan anak bapak. Menunggu sambil berharap keadaan akan berubah dengan sendirinya, bukanlah langkah yang bijaksana. Banyak cerita yang sudah terjadi, dimana anak sudah terlanjur besar dan sulit dikoreksi. Penyesalan berkepanjangan tidak mengubah apapun. Sebaliknya, bila intervensi dilakukan dengan tepat sejak dini, tidak akan ada kerugian karena Anda makin dekat dengan anak (karena Anda mengamati ia dengan penuh sayang) dan Anda memberikan stimulasi efektif padanya (berarti, ia memperoleh pengarahan yang menyenangkan yang baik untuk perkembangannya).
 
Salam,
Dyah Puspita
Psikolog & Pendidik
 
-----------------------------
Saya ingin sharing sedikit..
 
Anak sulung saya juga memiliki masalah yang sama saat TK (sekarang SD kelas II, umur 7 tahun), Waktu itu dia saya hadiahi sebuah buku dengan tulisan besar di depannya : DUCKZILLA
 
Beberapa waktu kemudian dia menghampiri saya dengan gembira : "ma aku sudah bisa nulis".. Dan yang di tulisnya adalah : ALLIZKCUD, dengan huruf terbalik semua (nggak bisa diketik soalnya di keyboard nggak ada), seperti tulisan di mobil ambulans.
 
Saya agak kaget, lalu saya suruh nulis angka... semua terbalik dan nulisnya dari kanan ke kiri, seperti kalau nulis huruf arab. Cara menulisnyapun (arah goresan) dari bawah ke atas, bukan seperti yang umum kita lakukan, dari atas ke bawah. Pokoknya saya dibikin grogi habis... Kalau disuruh ngeja R-U = Ru, S-A= sa... dia bukan bilang RUSA tapi SARU, kupu-kupu jadi puku-puku, tahu jadi tu-ha...tokek jadi tekok... pokoknya kacau.
 
Kebetulan saya sedang ke Semarang, saya sekalian konsultasi dengan seorang psikolog yang sedang giat mempelajari LD. Beliau mengatakan, hal seperti ini memang kadang terjadi pada anak di bawah 6 tahun, yang merupakan gangguan presepsi karena belum sempurnanya perkembangan otak. Kadang memang berlanjut sehingga menjadi problem yang mengganggu (seperti Dyslexid, namun banyak pula yang pulih setelah masuk usia 6-7 tahun)
 
Beliau melakukan serangkaian test IQ dan observasi, dan hasilnya lumayan (gak bego-bego amat).
 
Lalu beliau menyarankan untuk terus mengawasi dan membimbing dengan cara memberi contoh tulisan dan menulis yang benar, jangan terus menerus mengoreksi atau menyalahkan, karena hal itu akan membuat dia nggak pe-de dan bahkan bisa frustrasi, merasa nggak mampu dan trauma terhadap tulis menulis.
 
Saya mengikuti saran beliau, kebetulan guru TK nya pun amat suaabaar.. ditambah dengan masukan yang saya sampaikan kepada beliau....
 
Menjelang masuk SD dia sudah mulai menampakkan perubahan. Namun masih sering terbalik. Saat duduk di kelas I, sudah sangat mengalami banyak kemajuan, gurunyapun Alhamdulillah sangat memahami (SD nya SD negeri biasa), malah dia bilang "biasa bu... kita arahkan saja terus menerus... yang penting dia enjoy dulu bersekolah, nanti kita betulin pelan-pelan"
 
Lama kelamaan, masuk catur wulan kedua, kemajuannya sangat pesat, bahkan di cawu III sudah sangat jarang terbalik. Sekarang dia sudah kelas II, satu masalah sudah teratasi, nulisnya sudah bagus dan untuk meningkatkan kualitasnya, gurunya memberi pelajaran ekstra menulis untuk anak-anak yang tulisannya istimewa jeleknya seperti anak saya. Hanya tinggal meningkatkan daya konsentrasi dan konsistensinya. Nilainya juga nggak jelek-jelek amat.. lumayanlah... karena dia sangat fluktuatif. Hari ini pulang dengan nilai 10 eh besok bisa-bisanya bawa "bebek" ke rumah, untuk mata pelajaran yang sama. Saya tanyakan ke gurunya, pada saat seperti itu biasanya dia memang agak jelek konsentrasinya dan kumat hobi ngobrolnya.
 
Tapi di satu sisi saya bersyukur juga, karena dia pernah punya "keterampilan" menulis terbalik dan dari kanan ke kiri, ngajinya jadi bagus. Gurunya bilang dia cukup cepat mengikuti. Dan akan lebih baik lagi kalau dia bisa meningkatkan konsentrasinya dan berhenti mengobrol (kalau nggak ada yang diajak ngobrol dia ngoceh sendiri).
 
Begitulah pengalaman saya...
 
dewi
rekan milis/orang tua 
 
---------------------
 
Bukan hanya terapis okupasi, tapi melalui pendidikan khusus sehingga anak dibantu mengatasi kekrurangannya tersebut.
 
Ada SD khusus anak-anak dengan learning disabilities ini di Jl. Senopati – SD Pantara. Mungkin psikolog disitu (Ibu Vitri) bisa membantu dengan lebih detil.
 
Semoga terbantu.
 
salam,
Dyah Puspita
 
---------------
 
Ada sekelompok gangguan yang disebut sebagai Specific Learning Disabilities. Kelompok itu dapat terdiri dari dyslexia yaitu gangguan kemampuan memproses bahasa sehingga mempengaruhi kemampuan membaca, menulis dan mengeja; 
- dysgraphia yaitu gangguan kemampuan menulis; 
- dyscalculia yaitu kesulitan dalam memahami konsep matematika dan hitungan; 
- dyspraxia yaitu kesulitan merencanakan suatu gerak motorik; dan beberapa tipe lain.
 
Coba Bapak Wibowo search dengan keyword Learning Disabilities atau kata-kata lain di atas.
 
Menurut saya Ayu harus diperiksa lebih lanjut, apakah ada gangguan tersebut. Seterusnya dapat diperbaiki oleh terapis okupasi.
 
Dr. Hardiono D. Pusponegoro
Dokter Anak dan Neurolog
 
----------------